NgawiPeduli.com
Ekonomi557 dilihat

HARGA KEDELAI DAN MINYAK GORENG NAIK : Perajin Kedelai Goreng Ngawi Pangkas Produksi demi Bertahan

Harga kedelai dan minyak goreng naik membuat perajin kedelai goreng di Ngawi memangkas produksi hingga 50 persen. Simak kronologi dan pelajarannya.

Ilustrasi usaha kecil pengolahan kedelai goreng
Ilustrasi usaha kecil pengolahan kedelai goreng

NgawiPeduli.Com — Lonjakan harga bahan baku kedelai dan minyak goreng membuat para pelaku UMKM di Kabupaten Ngawi menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Salah satunya dialami Muhadi Suko Utomo (54), perajin kedelai goreng asal Desa Beran, Kecamatan Ngawi, yang sejak sekitar tiga bulan terakhir terpaksa memangkas hari kerja dan menurunkan kapasitas produksinya hingga separuh. Situasi ini menjadi gambaran nyata betapa rapuhnya napas usaha kecil ketika harga kebutuhan pokok bergejolak — sebuah pengingat bahwa di balik angka inflasi, ada keringat dan harapan banyak keluarga yang turut tergoyang.

Kronologi Tekanan Harga yang Dirasakan Perajin

1️⃣ Biaya produksi melonjak — Menurut laporan, sejak tiga bulan terakhir usaha Muhadi terbebani kenaikan harga sejumlah bahan baku utama, mulai dari kedelai, minyak goreng, hingga plastik kemasan.

2️⃣ Hari kerja dipangkas separuh lebih — Bila sebelumnya proses menggoreng berlangsung 20 hari dalam sebulan dengan tiga karyawan, kini hanya berjalan delapan hari per bulan. Produksi pun turun dari sekitar delapan kuintal per hari menjadi hanya empat kuintal, atau anjlok hingga 50 persen.

3️⃣ Harga bahan baku naik tajam — Kedelai yang semula Rp8.500 per kilogram kini Rp10.500. Plastik pembungkus melonjak dari Rp28 ribu menjadi Rp55 ribu per kilogram, sementara minyak goreng curah naik dari Rp16 ribu ke Rp19.300 per kilogram.

4️⃣ Beralih ke minyak curah — Karena minyak goreng kemasan langka dan mahal, para perajin terpaksa menggunakan minyak curah. "Dulu pakai minyak goreng kemasan, kini beralih ke curah karena kemasan mahal dan barangnya langka," ujar Mustaqim, salah satu karyawan, seperti dikutip dari beritajatim.com.

5️⃣ Harga jual naik, untung menipis — Kedelai goreng kemasan lima kilogram kini dijual Rp82 ribu, naik Rp5 ribu dari sebelumnya. Meski begitu, kenaikan ini dinilai belum menutup lonjakan biaya. "Susah sekarang, minyak goreng langka, harganya naik. Kita terpaksa naikkan harga dan kurangi jam kerja," kata Muhadi.

Kaitannya dengan Kita

Kisah dari Desa Beran ini bukan sekadar cerita satu perajin, melainkan potret banyak pelaku usaha kecil di Ngawi yang menggantungkan hidup pada stabilitas harga pasar. Produk kedelai goreng ini bahkan dipasarkan hingga Madiun, Ponorogo, dan beberapa kota di Jawa Tengah — sehingga gangguan produksi di sini berdampak pada rantai pasok lintas daerah, juga pada para karyawan yang nafkahnya bergantung pada putaran roda usaha. Ketika satu mesin ekonomi kecil melambat, getarannya terasa hingga meja makan banyak keluarga. Inilah saatnya kita menyadari bahwa membeli produk lokal dan mendukung UMKM tetangga adalah bentuk solidaritas yang nyata.

Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

1️⃣ Ketahanan ekonomi keluarga — Gejolak harga mengingatkan pentingnya pengelolaan usaha yang adaptif: menyesuaikan kapasitas, mencari alternatif bahan, dan tidak menyerah meski margin menipis.

2️⃣ Empati pada pelaku usaha kecil — Di balik kenaikan harga produk, sering ada perajin yang justru berkurang penghasilannya. Memahami hal ini membuat kita lebih bijak menilai, bukan sekadar mengeluh mahal.

3️⃣ Peran kebijakan dan kebersamaan — Harapan Muhadi agar pemerintah menstabilkan harga kedelai dan minyak goreng mengingatkan bahwa keberlangsungan UMKM membutuhkan dukungan kolektif — dari pembuat kebijakan hingga konsumen.

4️⃣ Syukur dan kesabaran — Memilih mengurangi jam kerja daripada menutup usaha sepenuhnya adalah bentuk ketabahan menjaga mata pencaharian karyawan, sebuah teladan tentang tanggung jawab dan harapan.

❤️ Ending yang Menginspirasi ❤️

Di balik setiap usaha kecil yang bertahan, ada keberanian untuk tidak menyerah dan kepedulian agar dapur orang lain tetap mengepul. Dukungan kita pada sesama, sekecil apa pun, adalah bahan bakar yang menjaga harapan tetap menyala.

📌 Sumber:

Ditulis ulang oleh tim NgawiPeduli.Com dari sumber di atas untuk tujuan edukasi & informasi.

Bagikan:

Tergerak untuk membantu?

Salurkan kebaikanmu lewat program terverifikasi.

Lihat Campaign

Komentar

Masuk untuk ikut berkomentar.
Memuat komentar…