Mahasiswa KKN IAI Ngawi Silaturahmi ke Gereja Pantekosta Kedungprahu: Merawat Kerukunan Lintas Agama
Mahasiswa KKN IAI Ngawi mengunjungi Gereja Pantekosta Kedungprahu, Padas, sebagai upaya merawat kerukunan dan toleransi antarumat beragama.

NgawiPeduli.Com β Sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam (IAI) Ngawi mendatangi Gereja Pantekosta di Desa Kedungprahu, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi, pada Minggu (19/7/2026). Kunjungan silaturahmi yang dilakukan Kelompok 4 itu menjadi bentuk sederhana namun bermakna dari upaya merawat kerukunan antarumat beragama di lingkungan tempat mereka mengabdi.
Bertamu dan berdialog dalam suasana kekeluargaan
Rombongan mahasiswa disambut hangat oleh Pendeta Daniel Joko Purwanto bersama jemaat gereja setempat. Pertemuan itu berlangsung akrab, diisi obrolan mengenai pentingnya menjaga persatuan serta menjalin hubungan yang harmonis di tengah keragaman keyakinan. Bagi para mahasiswa, kunjungan semacam ini adalah cara mempraktikkan nilai toleransi secara langsung, bukan sekadar mendiskusikannya di ruang kuliah.
Koordinator Desa KKN IAI Ngawi, Imam Ali Mushthofa, menyampaikan bahwa timnya berkomitmen mengamalkan nilai-nilai moderasi beragama yang selama ini menjadi bagian dari tradisi keilmuan kampus dan Nahdlatul Ulama. Ia menyebut empat prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, yakni sikap moderat, seimbang, toleran, serta adil dan tegak lurus, sebagai pedoman dalam membangun hubungan dengan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. Semangat itu, menurutnya, meneladani sosok KH. Abdurrahman Wahid yang dikenal menjunjung tinggi kemanusiaan dan persaudaraan.
Harapan dari rumah ibadah
Dari sisi tuan rumah, Pendeta Daniel Joko Purwanto mengaku senang atas kedatangan para mahasiswa. Ia menilai pertemuan seperti ini adalah langkah nyata mempererat hubungan baik antarumat beragama di Kedungprahu. "Nilai moderasi beragama harus terus dikembangkan agar tercipta hubungan yang semakin erat, saling menghormati, dan saling mendukung di tengah perbedaan," ungkapnya sebagaimana dikutip Grafika News. Ia pun berharap para mahasiswa kelak menjadi generasi yang mampu menjadi teladan dalam menjaga kerukunan.
Kunjungan singkat di sebuah desa di Padas ini memperlihatkan bahwa toleransi tumbuh dari hal-hal sederhana: bersedia bertamu, mau mendengar, dan saling menghormati ruang keyakinan masing-masing. Bagi warga Ngawi yang hidup dalam keragaman, langkah kecil seperti bertegur sapa antar rumah ibadah kerap lebih berarti daripada perdebatan panjang tentang perbedaan.
π Sumber:
Ditulis ulang oleh tim NgawiPeduli.Com dari sumber di atas untuk tujuan edukasi & informasi.
